Arsip Kategori: Sepakbola

Gianluigi Buffon Ukir Rekor Baru Lagi Bersama Juventus

Gianluigi Buffon Ukir Rekor Baru Lagi Bersama Juventus

Gianluigi Buffon kembali mengukir rekor baru bersama Juventus disaat usianya memasuki 42 tahun, tua-tua keladi semakin tua makin menjadi seakan menjadi pepatah yang cocok untuknya saat ini. Gianluigi Buffon sudah bermain aktif tampil dalam 4 dekade mulai tahun 1995 hingga tahun 2020 sekarang bersama Juventus.

Sebuah rekor itu tercipta seusai Gianluigi Buffon selama 90 menit bermain menjadi kiper dalam laga 16 besar Coppa Italia 2019/2020 (16/1) di Allianz Stadium saat Juventus mengalahkan Udinese dengan skor 4-0.

Pada laga pertandingan itu menjadi yang pertama kali bagi Gianluigi Buffon di tahun ini dikarenakan pada 2 laga Seri A sebelumnya pelatih Maurizio Sarri mempercayakan posisi penjaga gawang utama Juventus untuk Wojciech Szczesny saat masing-masing laga menghadapi AS Roma dan Cagliari.

Tidak hanya rekor bermain dalam 4 dekade berbeda yang diraihnya, pada sebelumnya Gianluigi Buffon telah menyamai catatan bek legendaris Paolo Maldini bersama AC MIlan, telah mencatatkan 647 penampilan pada laga Serie A Italia. Hal tersebut merupakan jadi jumlah terbanyak pada seorang pemain saat tampil pada kompetisi kasta tertinggi Italia Seri A.

Walaupun seperti itu Gianluigi Buffon tetap rendah hati dan tidak sombong. Selain itu Gianluigi Buffon juga tidak mau jadi anutan buat yang lain harus seperti dirinya, dan pada khususnya pemain muda dan cilik. Gianluigi Buffon menganggap pada hal itu merupakan di luar kuasanya untuk menjalaninya.

Gianluigi Buffon tidak mau orang tua menekan anak mereka seperti mencontohkan prestasi yang sudah didapatkannya selama menjadi pemain sepak bola profesional, juga dengan menjadikannya menjadi seorang panutan.

“Kepuasan itu yang dapat memberikan kebanggaan pada diri. Sebuah hal wajar untuk bangga sebenarnya,” ucap Gianluigi Buffon.

“Pada hidup itu dibangun dari keringat dan pengorbanan, tetapi juga dari hal yang indah juga sederhana. Tidak ingin saya jadi panutan untuk anak kecil juga orang lain, semua itu bukanlah aspirasi, selain itu saya tidak merasa perlu untuk mendidik siapa saja. Juga banyak dari kalian yang ingin saya mengambil tanggung jawab tersebut, namun pendidikan seorang anak tergantung pada orang tua dari anak tersebut,” Imbuh Buffon.

Bersama Juventus di berbagai ajang Gianluigi Buffon sudah mengoleksi 9 penampilan sepanjang musim ini.

Bukan Usia, Fabio Capello Sebut Produktivitas CR7 Menurun karena Maurizio Sarri

Bukan Usia, Fabio Capello Sebut Produktivitas CR7 Menurun karena Maurizio Sarri

Pelatih veteran Fabio Capello, asal Italia tertarik dalam ikut menyampaikan pandangannya tentang persoalan produktivitas gol Cristiano Ronaldo megabintang Juventus yang mulai mengalami penurunan saat ini. Fabio Capello menilai inti dari masalah itu bukanlah terletak pada bertambahnya umur Cristiano Ronaldo yang berumur 34 tahun saat ini.

Salah Posisi

Fabio Capello, sedikit banyak umur memang sudah menggerus kemampuan Cristiano Ronaldo di atas lapangan saat ini. Tetapi dia percaya megabintang Juventus Cristiano Ronaldo masih dapat sangat produktif jika perancang strategi Juventus Maurizio Sarri dapat menempatkannya pada posisi yang benar di tim, Cristiano Ronaldo seharusnya dibiarkan bermain lebih banyak pada area kotak penalti lawan dan bukan melebar juga diperankan sebagai penyerang sayap pada laga pertandingan.

“Cristiano Ronaldo merupakan penyerang tengah terbaik di dunia. Belum ada pemain lain yang seperti dirinya, juga memahami betul bagaimana cara mengeksploitasi bola di kotak penalti lawan. Sementara dia sekarang sudah tidak mempunyai kecepatan juga dribbling yang sama seperti sebelumnya. CR7 mestinya bermain di dalam kotak penalti,” Ucap Fabio Capello, dikutip dari Sky Sports Italia (5/1/2020).

Dari data Transfermarkt Juventus musim ini memainkan Cristiano Ronaldo pada dua posisi. Cristiano hanya dapat menorehkan 9 gol dari 14 laga saat bermain menjadi penyerang tengah, juga 3 gol dari 7 pertandingan ketika berperan menjadi penyerang sayap.

Saran Capello

Lebih jauh, Capello menyarankan Sarri untuk mematenkan posisi Ronaldo sebagai penyerang tengah, lalu mempercayakan peran di bagian sayap kepada dua bintang Bianconeri lainnya, yakni Paulo Dybala dan Douglas Costa, yang relatif masih muda.

“Saya menjadi komentator La Liga ketika dia (Ronaldo) masih bisa berlari dan meninggalkan lawannya di belakang. Dalam dirinya, dia adalah juara, yang terbaik dari semua. Tapi saat ini biarkan peran itu dipegang Dybala dan Douglas Costa yang masih bisa mencetak gol dengan cara sensasional,” tutup Capello yang pernah menangani Juventus pada periode 2004-2006.

Komparasi Produktivitas CR7 di Juve dan Madrid

Kendati terbilang masih moncer, namun tak bisa dipungkiri bahwa catatan gol yang ditorehkan Ronaldo bersama Juventus selama dua musim terakhir jauh lebih sedikit ketimbang saat dirinya masih berseragam Real Madrid. Di La Liga Spanyol, superstar berjuluk CR7 selalu mampu membukukan lebih dari 40 gol permusim. Sementara di Serie A Italia, Ronaldo hanya sanggup mencetak sebanyak 28 gol saja pada musim lalu, dan 12 gol di musim kompetisi 2019/2020 sejauh ini.

Ole Gunnar Solksjaer Membalas Kritikan Robin Van Persie Yang Sudah Mengkritiknya Jika Dia Terlalu Banyak Senyum

Manchester United kalah saat melawan Arsenal  2-0 (2/1/2020) di Emirates stadium. Ole Gunnar Solksjaer mendapat kritikan dari Robin Van Persie Mantan Striker The Red Devils lalu.

Ole Gunnar Solksjaer Membalas Kritikan Robin Van Persie Yang Sudah Mengkritiknya Jika Dia Terlalu Banyak Senyum

Ole Gunnar Solksjaer Membalas Kritikan Robin Van Persie Yang Sudah Mengkritiknya Jika Dia Terlalu Banyak Senyum

Selesai petandingan Laga Arsenal vs Mancester United, Robin Van Persie memberikan kritik untuk pelatih Ole Gunnar Solksjaer saat laga pertandingan semestinya Solksjaer menunjukkan sebuah amarah, bukan sebaliknya memberikan sebuah senyuman saat pertemuan media selesai pertandingan itu. Saat mendengar wanwancara Solksjaer tampak terlihat bagaikan orangh ramah, namun Van Persie ingi melihatnya sedikit lebih kejam dan mengeluarkan amarah. Menurut Robin Van Persie saat itu bukanlah waktu untuk tersenyum.

Setelah berselang beberapa hari pada Piala Fa saat United melawan Wolves, Ole Gunnar Solksjaer angkat bicara mengenai kritikan Robin Van Persie tersebut. Ole mngucapkan jika dirinya tidak mengenal Van Persie, dan dia juag tidak mempunyai hak untuk mengkritik gaya berlatinya dan dia berkata tidak akan mengubah apapun yang sudah ada pada dirinya.

Kedua orang tersebut memang pernah memakai seragam The Red Devils tetapi keduanya belum pernah bertemu di Old Traford. Ole Gunnar Solskjaer sudah mengejar lisensi untuk berlatih sebelum setahun Robin Van Persie bergabung bersama Manchester United. Dan disitu ada sebuah hal menarik saat Robin Van Persie tiga tahun bersama Manchester United, ia mewarisi seragam dengan nomor 20 yang sebelumnya digunakan Ole Gunnar Solksjaer.

Hal tersebut menjadi sebuah bahan balasan untuk Solksjaer kepada Robin Van Persie. “Dia mengambil seragam saya dengan nomor 20 di Manchester”ungkap Solksjaer.

Namun tidak hanya sekali saja Ole Gunnar Solksjaer berurusan dengan mantan pemain United yang sering melontarkan kritik untuk kepelatihan Ole Gunnar Solksjaer saat ini, Sebelum ini Jose Mourinho juga pernah mengkritiknya juga selain itu Paul Scholes juga pernah mengkritik tajam Ole Gunnar Solksjaer.

Semenjak kursi kepelatihan Sir Alex Ferguson, Solksjaer menjadi pengganti pelatih legenda United itu. Namun sampai saat ini United masih tampak sedikit kesulitan dalam membentuk tim yang solid seperti sebelumnya saat dilatih oleh Sir Alex Ferguson.

Kisah Sadio Mane, Anak Dari Keluarga Miskin yang Menjadi Pemain Kelas Dunia

Sadio Mane sekarang telah dianggap sebagai salah satu pemain top kelas dunia saat ini. Performa memukau dia tunjukkan dalam dua musim berama dengan Liverpool. Mantan pemain Southampton ini meraih Golden Boot Liga Premier dengan 22 gol bersama dengan Mohammed Salah dan memenangkan trofi Liga Champions bersama The Reds (Liverpool).Sadio Mane lahir 10 April 1992 di Sedhiou, Senegal.

Kisah Sadio Mane, Anak Dari Keluarga Miskin yang Menjadi Pemain Kelas Dunia

Kisah Sadio Mane, Anak Dari Keluarga Miskin yang Menjadi Pemain Kelas Dunia

Tumbuh di desa kecil Bambali, jauh berada di selatan Senegal. Waktu kecil dia tinggal bersama pamannya karena orang tua Sadio Mane memiliki banyak anak dan tidak mampu memenuhi kebutuhan keuangan keluarganya. Orang tua saya tidap pernah mempunyai uang untuk mengirim saya ke sekolah, ucap Sadio Mane. Setiap pagi dan sore dia selalu pergi bermain sepak bola bersama teman masa kecilnaya di jalanan.

Ketika saat masih kecil dia memikirkan Liga Premier yang sering ditonotonya melalui TV,
Mane mengucapkan itulah mimpi besar saya. Inspirasi Sadio Mane untuk menjadi pemain sepakbola datang dari kegembiraan pada tahun 2002 saat Senegal mencapai perempat final dalam penampilan pertamanya pada Piala Dunia. Mengalahkan Prancis di pertandingan pembuka adalah keajaiban yang tidak pernah dia lupakan.

Setelah Piala Dunia tersebuat Mane bersama teman temannya mengikuti turnamen kecil desa dan bertekad memenangkan dan menjadi yang terbaik didesa. Namun keluarga Mane tidak tertarik dengan sepakbola, mereka ingin Mane taat ibadah dan tidak setuju menjadi pemain bola. Demi mempelajari sepakbola lebih lanjut Mane pergi ke kota Dakar, Ibukota Negara Senegal. Pada awalnya keluarga Mane tidak mengizinkannya, tetapi saat melihat Mane sangat mencintai sepakbola akhirnya keluarga memutuskan untuk mendukung keinginannya tersebut.
Pama juga orang tua Mane menjual semua hasi panen pertanian mereka untuk diberikan kepada Mane sebagai bekal ke kota mengejar mimpinya menjadi pemain sepakbola.Bahkan orang desa juga ikut membantu mengumpulkan uang semampu mereka untuk Mane.

Paman Mane sangat berjasa sehingga semua orang didesa tersebut menyumbangkan uang untuk bekalnya menuju kekota. Mane lantas mencari tahu sepakbola paling populer di kota, pada berikutnya dia mengunjungi klub dan mengikuti seleksi masuk. Pada saat mengikuti seleksi Mane memakai sepatu boot yang sudah sobek. Saat mengikuti seleksi ada seseorang terus menatapnya dan bertanya kepadanya kesini untuk ujian? dengan memakai sepatu boot yang sobek itu? bahkan dia bilang sepatumu sanagt jelek dan tidak memakai celana sepakbola.
Mane memberi tahu bahwa apa yang dia pakai merupakan celananya yang terbaik yang dia miliki. Setelah itu pria itu melihat kejutan saat Mane masuk ke lapangan dan berkata saya memilih kamu dan bermain untuk klub.

Titik balik karirnya ketika ada pemandu asal Prancis ditugaskan mencari bakat sepakbola di Senegal untuk diberangkatkan ke Prancis. Para pemandu terpukau dengan bakat sepakbola Mane lantas memberangkatkannya ke Prancis. Membuatnya bergabung dengan klub Metz di Prancis. Mane mulai bermain sepakbola profesional di Prancis pada usia 15 Tahun. Itu menjadi awal dari Mane meraih mimpinya sebagai pemain sepakbola profesional dan hingga sekarang Sadio Mane Bermain pada salah satu tim terbaik dunia Liverpool.