Kejang Tonik-Klonik – Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasi By

Kejang tonik-klonik, juga dikenal sebagai kejang grand mal, adalah jenis kejang epilepsi yang paling umum dan ditandai oleh serangkaian perubahan perilaku dan aktivitas otot yang dramatis. Kejang ini terdiri dari dua fase utama: fase tonik dan fase klonik.

**Fase Tonic**:
Fase tonik adalah tahap awal dari kejang tonik-klonik. Pada tahap ini, otot-otot tubuh menjadi kaku dan tegang secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan tubuh menjadi kaku dan terangkat dari permukaan. Penderita mungkin mengalami kesulitan bernapas dan mungkin mengeluarkan suara erangan atau teriakan akibat penegangan otot-otot pernapasan.

**Fase Clonic**:
Setelah fase tonik, tubuh akan mengalami periode kejang yang berirama dan berulang-ulang. Ini disebut fase klonik. Selama fase ini, otot-otot akan berkontraksi dan meregang dengan cepat, menyebabkan gerakan gemetar atau bergetar. Pada saat ini, penderita mungkin mengalami kehilangan kendali atas gerakan tubuh dan tidak sadarkan diri.

**Penyebab**:
Kejang tonik-klonik dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan neurologis seperti epilepsi, cedera kepala parah, gangguan perkembangan otak, kelainan genetik, dan penyakit tertentu seperti ensefalitis atau tumor otak. Faktor lain yang dapat memicu kejang termasuk penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, perubahan hormon, dan kurang tidur.

**Cara Mengatasi**:
1. **Pengobatan Antiepilepsi**: Pengobatan utama untuk mengendalikan kejang tonik-klonik adalah obat antiepilepsi. Dokter akan meresepkan obat yang sesuai dengan jenis epilepsi dan respons pasien terhadap pengobatan.

2. **Gaya Hidup Sehat**: Menjaga gaya hidup sehat dengan tidur yang cukup, menghindari stres berlebihan, dan mengelola faktor pemicu potensial dapat membantu mengurangi risiko kejang.

3. **Penghindaran Pemicu**: Menghindari faktor pemicu seperti alkohol, obat-obatan terlarang, dan kekurangan tidur dapat membantu mencegah kejang tonik-klonik.

4. **Terapi Ketosis**: Beberapa orang dengan epilepsi yang tidak merespons pengobatan dapat merasakan manfaat dari diet ketosis tinggi lemak rendah karbohidrat, yang dapat membantu mengurangi frekuensi dan intensitas kejang.

5. **Stimulasi Saraf Vagus**: Terapi ini melibatkan implantasi perangkat yang merangsang saraf vagus di leher untuk mengurangi frekuensi dan keparahan kejang.

6. **Pembedahan**: Jika pengobatan dan pendekatan lain tidak efektif, pembedahan untuk menghapus atau memodifikasi area otak yang terlibat dalam kejang dapat dipertimbangkan.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi dalam mengatasi kejang tonik-klonik. Setiap kasus dapat berbeda, dan pengobatan yang efektif akan disesuaikan dengan kebutuhan individu.